CITRA DA’I DI MATA MASYARAKAT
Citra ialah suatu kesan yang kuat yang melekat pada idividu, sekelompok orang atau tentang suatu intitusi.Seseorang yang dalam konsisten dan dalam waktu yang lama berprilaku baik atau berprestasi menonjol maka akan terbangun kesan pada masyarakatnya bahwa orang tersebut adalah sosok orang baik dan hebat. Sebalikny pula jika indifidu seseorang dalam waktu cukup lama menampilkan suatu prilaku yang tidak konsisten,maka akan tertanam kesan buruk orang tersebut.
Dalam perspektip ini maka citra dapat di ciptakan.Citra atau kesan terbangun malalui proses komunikasi interpersonal dimana khalayk mempersepsi kepada kita atau sebaliknya.Setiap da’i idealnya merasa sebagai pejuang yang bekerja untuk menyelamatkan masyarakat dari suatu kesalahan dan mengantarnya pada kebenaran hakiki.Sebagai pejuang maka seorang da’i tak mengenal lelah, tak mengaharapkan pengaargaan,dan juga upah.
Bagi seorang da’i, ridla Allah lah yang dicari, oleh karena itu tantangan, hambatan dan bahkan caci maki dari masyarakat yang belum yang belum bisa menerima dakwahnya diterima dengan ikhlas, sabar dan dijadikan cambuk perjuang
1. Komunikasi Interpersoanal
Dalam sudut pandag Psikologi Komunikasi, bagaimana persepsi orang terhadap kita,atau bagaiamana persepsi kita tentang oarang lain di katakan sebagai Komunikasi Interpersonal.
Perbedaan persepsi terhadap benda dengan persepsi terhadap manusia ( interperpersonal ) adalah disebabkan hal-hal sebagai berikut :
1. Terhadap benda, patung misalnya, stimuli ditangkap hanya dengan indra, sedangkan persepsi terhadap manusia, stimuli diamping ditangkap melalui indera, dan lambang-lambang verbal.
2. Bila seseorang melihat benda, maka yang dilihat hanya benda itu saja,yakni sifat-sifat luarnya saja tnpa harus mempertimbangkan bagaiman perasaannya, sedang ia berkomunikasi dengan manusia ( interpersonal ) maka yang diperhatikan bukan hanya tindaka luarnya, tetapi juga memperhitungkan bagaimana persaannya, dan motivasinya.
3. Ketika benda diamati ia tidak beriaksi apa pun, sedang terjadilah saling tukar stimulus dan respon antar kedua belah pihak.
4. Benda relatif tidak berubah, sedang manusia selalau berubah.
B. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Orang Lain
Karena manusia itu mahhluk yang berpikir dan merasa, maka dalam mempersepsi orang lain pikiran dan perasaannya bekerja, yaitu menangkap stimuli dan mengolahnaya menjadi informasi ( persepsi ) Ketika mempersepsi orang lain,sekurang-kurangny ada dua hal yang mempengaruhi persepsi faktor situasional dan faktor personal .
I. Faktor Situasional yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor-faktor situasional yang mempengaruhi persepsi diantaranya adalah sebagai berikut :
Cara menyebut sifat orang
Jarak
Gerakan Orang
Petunjuk Wajah
Bagaiman Cara mengucapkan Lambang-lambang Verbal
Penampilan
II. Faktor Personal yang Mempengaruhi Persepsi Terhadap Orang Lain
Ada pun faktor personal yang mempengaruhi persepsi terhadap orang lain diantaranya adalah sebagai berikut :
Pengalaman
Konsep diri
Kualitas konsep diri
Konsep diri seseorang biasanya tumbuh karena dipengaruhi oleh dua hal diantaranya:
1. Dipengaruhi orang lain, misalnya, karena sering dipuji.
2. Kelompok Rujukan,. Seorang tokoh masyarakat yang menjadi pengurus Dewan Dakwah atau Majlis Dakwah.
BAB VI
HUBUNGAN ANTARA MANUSIA: DA’I – MAD’U
Ciri-ciri dakwah yang efektif adalah apabila hubungan baik antara da’i dan mad’u ( hubungan interpersonal atau hubungan batin ) semakin meningkat
1. Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Da’i dan Mad’u
Ketertarikan dan sikap positif masyarkat terhadap da’i dapat diuraikan faktor-faktornya sebagai berikut:
Ketetariakan dan sikap positif masyarakat terhadap da’i boleh jadi disebabkan karena dya persona sang da’i.
Ketertarikan itu boleh jadi kerena kehadiran da’i dapat pada saat masyarakat membutuhkan kehdiran figur seorang da’i.
Hubungan batin itu terbentuk boleh jadi karena masyarakat sedang merindukan hadirnya seseorang pemimpin spritual..
Sikap positif dan kesukaan atau ketertarikan orang kepada da’i dapat dipengaruhi oleh hal-hal diantarnya sebagai berikut:
• Kesamaan karakteristik personal. Yakni kesmaan agama.
• Kesamaan tekanan psikologi. Orang yang sedang tertekan perasaannya cendrung tertarik kepada orang lain yang juga sedang tertekan.
• Rendahnya harga diri. Orang yang rendah diri cendrung tertarik kepada orang yang dianggap dapat melindungi dirinya.
2 . Pijakan Psikologi Hubungan Da’i dan Mad’u
Hubungan baik da’i dan mad’u, sebagimana hubungan baik antarsiapa pun tidak otomatisterjadi tetapi membutuhkan adanya pijakan-pijakan psikologi. Hubungan baik itu dimungkinkan jika diantara kedua pihak terdapat hal-hal sebagai berikut:
1. Faktor percaya
Jika masyarakat percaya kepada da’i dan memandangnya dengan penuh hormat, dipihak lain da’i pun percaya bahwa masyarkat berpikir konstruktif, maka faktir ini memungkinkan terjadinya hubungan baik antara da’i dan masyarakat.
2. Sikap saling membantu
Jika masyarakat merasa dibantu oleh kehsiran da’i, dan da’i pun merasa dibantu oleh masyarkat dlam berekspresi diri dan beramal saleh mengembangkan karir.
3. Sikap terbuka
Seorang da’i, jika ia memiliki sikap terbuka, yakni tahu betul apa yang telah diketahui oleh masyarakat tentang dirinya sehingga ia tidak perlu menutupi dirinya dengan topeng kepalsuan.
2. Model-model Hubungan Da’i dan Mad’u
Dalam kehidupan keseharian, ada da’i yang melakukan peran sebagai guru dan orang tua ( sesepuh masyarakat ), ada juga yang berperan sebagai penggerak masyarakat ( motivator atau aktivis ),ada yang melkukan peran sebagai pemimpin formal ( lurah, bupati atau Mentri ) atau berperan sebagi pemimpin iinformal, pemimpin masyarakat, ketua organisai sosial,ketua adat,dan sebagainya.Hubungan antara da’i dan mad’u, atau hubungan antara da’i dan masyarakat dapat diuraikan dengan menggunakan teori hubungn interpersonal.
Dalam tinjauan ini sekurang kurangnya ada tiga model hubungan interpersonal yang dapat digunakan untuk mengetahui intersitas hubungan antara da’i dan masyarakat:
A. Model pertukaran sosial
Teori ini memandang bahwa hubungan antara da’i dan mad’u tak ubahnya seperti oarang sedang melakukan transaksi dagang.Artinya da’i menjual kebahagian ketenteraman dan keabsahan sedang masyakat membayarnya dengan mengeluarkan biaya berupa uang.
B. Model Permainan
Teori ini memandang bahwa hidup ini seperti permainana sandiwara diatas panggung yang skenarionya sudah disususun oleh masyarakat, masing-masing sudah ditentukan perannya dalam naskah itu.Tugas da’i menurut naskah sandiawara hidup itu adalah berdakwah,guru mengajar.
C. Modal Permaian
Menurut teori ini, hubungan interpersonal manusia itu diasadari oleh permainan peranan yang berpokok pada tiga kepribadian orang tua, kepribadian orang dewasa dan kepribadian anak-anak.Orang tua mempunyai kepribadian suka melindungi, menyayangi dan memaklumi, orang dewasa kepribdiannya bersifat rasional,lugas dan tanggung jawab, sedang kepribadian anak-anak cendrung pad kesenangan dan manja.Jika seorang da’i dalam hubungannya dengan masyarakat mad’u menunjukkan kepribadian pemaaf, penyayang dan pengayoma masyarakat, maka ia diperlakukan orang sebagai oarang tua yang disegani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar