Kamis, 21 Mei 2009

KURVA PERMINTAAN AGREGAT DALAM KONVESIONAL

KURVA PERMINTAAN AGREGAT DALAM KONVESIONAL

Kurva ini membahas bagaimana tingkat harga keseimbangan ditetapkan dalam perekonomian. Analisis itu memungkinkan kita melihat bagaimana tingkat harga mempengaruhi perekonomian dan bagaimana perekonomian mempengaruhi tingkat harga. Permintaan orang akan uang tergantung pada pendapatan (Y), tingkat suku bunga (r), dan tingkat harga (P). (Ingatlah : Y adalah keluaran, atau pendapatan real. Dia mengukur volume keluaran aktual, tanpa melihat perubahan tingkat harga). Permintaan uang akan naik jika tingkat keluaran (pendapatan) rill naik, tingkat harga naik, atau tingkat suku bunga turun.
Permintaan agregat adalah permintaan total atas barang dan jasa dalam perekonomian. Kurva permintaan agregat didapatkan dengan mengansumsikan variable fiscal [pembelian pemerintah (G) dan pajak neto (T)] dan variable kebijakan moneter (MS) tetap tidak berubah. Dengan kata lain, bahwa pemerintah tidak mengmbil tindakan apapun untuk mempengaruhi perekonomian sebagai tanggapan terhadap perubahan tingkat harga.
© Gambar 1
Akibat Kenaikan Tingkat Harga terhadap Perekonomian – Dengan mengasumsikan Tidak ada perubahan G, T, dan MS
a. b.




c.





Ket: a. Kenaikan tingkat harga menaikan permintaan uang dari Md0 ke Md1. Karena penawaran tidak berubah. Tingkat suku bunga naik dari 6% ke 9%.
b. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi menurunkan investasi yang direncanakan dari
I0 ke I1.
c. Investasi yang direncanakan mengurangi pengekuaran agregat yang direncanakan dan menyebabkan keluaran (pendapatan) keseimbangan turun dari Y0 ke Y1

Kenaikan tingkat harga menyebabkan tingkat keluaran (pendapatan) agregat turun. Situasi yang sebaliknya terjadi bila tingkat harga menurun. Tingkat harga yang lebih rendah menyebabkan permintaan uang menurun, yang menyebabkan tingkat suku bung lebih rendah . Tingkat suku bung lebih rendah merangsang pengeluaran investasi yang direncanakan, menaikan pengeluaran agregat yang direncanakan, yang menyebabkan kenaikan Y.
Penurunan tingkat harga menyebabkan tingkat keluaran (pendapatan) agregat naik. Kurva permintaan agregat (AD) adalah kurva yang menunjukan hubungn relative antara keluaran (pendapatan) agregat dan tingkat harga. Setiap titik pada kurva AS merupakan titik dimana baik pasar barang maupun pasar uang berada dalam keseimbangan.
© Gambar 2 :
P2
P1
P0

Y2 Y1 ← Y0
Keluaran (pendapatan) agregat, y
Setiap pasang nilai P dan Y pada kurva permintaan agregat berhubungan dengan satu titik di mana baik pasar barang maupun pasar uang berada dalam keseimbangan. Kurva permintaan agregat jauh lebih rumit dibandingkan kurva permintaan pasar atau individu yang sederhana. Kurva AD bukan kurva permintaan pasar, dan kurva ini bukan jumlah dari semua kurva permintaan pasar dalam perekonomian.
Kurva permintaan menunjukkan kuantitas keluaran yang diminta (oleh suatu rumah tanggaindividual atau dalam suatu pasar tunggal) pada setiap harga yang mungkin, ceteris paribus. Dalam menggambarkan kurva permintaan, kita mengansumsikan bahwa harga-harga dan pendapatan tetap. Dari asumsi itu, menyusul bahwa salah satu alasan jumlah barang tertentu yang diminta turun bila harganya naik adalah bahwa harga-harga lain tidak naik.
Permintan agregat turun bila tingkat harga naik karena lebih tingginya tingkat harga menyebabkan naiknya permintaan uang (Md). karena penawaran uang yang konstan, tingkat suku bunga akan naik untuk membangun kembali keseimbangan di pasar uang. Tingkat suku bunga tinggilah yang menyebabkan keluaran agregat turun.

1. Alasan Mengapa Kurva Permintaan Agregat Melengkung Ke Bawah
Selain akibat penawaran uang dan permintaan uang terhadap tingkat suku bunga, dua faktor lain menjadi alasan mengapa kurva AD melengkung kebawah. Kedua alasan itu adalah kaitan konsumsi dan efek kekayaan rill.
 Kaitan Konsumsi : Kaitan konsumsi memberikan alasan lain mengapa kurva AD memiliki slope melengkung kebawah. Kenaikan tingkat harga menaikan permintaan uang, yang mengakibatkan pada kenaikan tingkat suku bunga, dan mengakibatkan penurunan keluaran (pendapatan) agregat. Penurunan awal konsumsi (yang ditimbulkan oleh kenaikan tingkat suku bunga) menyumbang kepada keseluruhan penurunan keluaran.
 Efek Kekayaan real : Konsumsi tergantung pada kekayaan, hal-hal lain sama semakin banyak kekayaan rumah tangga, semakin banyak merekan berkonsumsi. Kenaikan tingkat harga menurunkan nilai rill beberapa jenis kekayaan. Kenaikan tingkat harga menurunkan nilai rill kekayaan. Itu menyebabkan kenaikan konsumsi dan penurunan keluaran (pendapatan) agregat. Dengan demikian, ada hubungn negative antar tingkat harga dan keluaran melalui efek kekayaan rill atau efek saldo rill. Efek kekayaan real atau efek saldo rill adalah perubahan konsumsi yang disebabkan oleh perubahan kekayaan rel yang merupakan akibat dari perubahan tingkat harga.


2. Pergeseran Kurva Permintaan Agragat
Kenaikan jumlah uang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu menggeser kurva permintaan agregat kekanan. Kenaikan pembelia pemerintah atau suatu penurunan pajak neto juga menaikan keluaran (pendapan) agregat pada setiap tingkat harga yang mungkin, namun beberapa keneikan itu akan terdesak keluar jika penawaran uang tetap konstan

© Gambar 3 :
Akibat kenaikan penawaran
Uang terhadap kurva AD
Kenaikan penawaran uang (Ms)
menyebabkan kurva permintaan AD1
agregat bergeser ke kanan
dari AD0 ke AD1. Pergeseran AD0
itu terjadi karena kenaikan
Keluaran (pendapatan) agregat , Y
MS menurunkan tingkat suku
Bunga, yang menaikkan investasi
yang direncanakann (dan demikian
pengeluaran agregat yang direncanakan).
Hasil akhirnya adalah kenaikan keluaran pada masing-masing tingkat harga yang mungkin.


© Gambar 4 :

Akibat kenaikan pembelia
Pemerintah atau penurun pajak neto terhadap kurva AD
Kenaikan pembelian pemerintah AD1
(G) atau penurunan pajak neto (T)
Menyebabkan kurva permintaan AD0
Agregat bergeser kekanan, dari
AD0 ke AD1. Keneikan G menaikan Keluaran (pendapatan) agregat , Y
Pengeluaran agregat yang direncanakan
Yang menyebabkan kenaikan keluaran pada
Masing-masing tingkat harga yang mungkin .
Penurunan T menyababkan konsumsi naik. Konsumsi yang lebih tinggi selanjutnya menaikan pengeluara agregat yang direncanakan, yang menimbulkan kenaikan keluaran pada setiap harga yang mungkin .


Kenaikan pembelian pemerintah atau penurunan pajak neto menggeser kurva permintaan kekanan.



» Pergeseran Kurva Permintaan Agregat :



 Kebijakan moneter ekspansioner
MS ↑ → kurva AD bergeser ke kanan.


 Kebijakan fiscal ekspansioner
G↑ → kurva AD bergeser ke kanan.
T↑ → kurva AD bergeser ke kanan.


 Kebijakan moneter kontraksioner
MS ↓ → kurva AD bergeser ke kiri .

 Kebijakan fiscal kontrksioner
G↓ → kurva AD bergeser ke kiri.
T↓ → kurva AD bergeser ke kiri.






KURVA PENAWARAN AGREGAT (AS)

CIRI-CIRI KURVA (AS)
Dalam analisis makroekonomi diwaktu ini kurva penawaran agregat (AS) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
• Pada ketika tingkat pengangguran masih tinggi, kurva penawaran agregat AS relative landai. Maksudnya, penambahan produksi nasional dapat dilakukan perusahaan-perusahaan pada harga yang relative tetap karena (a) tingkat penggunaan barang modal belum mencapai kapasitasnya yang optimum, dan (b) upah masih relative tetap. Tahap ini dicapai pada bagian AB dari kurva AS.
• Dari titik B hingga titik C yaitu titik pada garis tegak pada tingkat kesempatan kerja penuh, kurva AS bertambah tingkat kenaikannya. Sebabnya adalah pengangguran semakin merosot dan kapasitas pabrik-pabrik sudah mencapai optimum.
• Sesudah tingkat pendapatan kerja penuh kurva AS keadaannya semakin tegak.

Kesimpulan : kurva penawaran agregat AS adalah suatu kurva yang berbentuk melengkung dari kiri bawah ke kanan atas, dengan tingkat kelengkungan yang semakin lama semakin tinggi.
kurva penawaran agregat pada hakikatnya menggambarkan tentang hubungan diantara tingkat harga yang berlaku dalam ekonomi dan nilai produksi riil (atau pendapatan nasional riil) yang akan ditawarkan dan diproduksi oleh semua perusahaan dalam sesuatu perekonomian.
Bentuknya yang melemgkung keatas berarti : semakin tinggi tingkat harga umum, semakin banyank autput nasional yang akan diprodksikan oleh perusahaan-perusahaan dalam perekonomian.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bentuk Kurva AS
A. ciri-ciri fungsi produksi

1. Efek hokum hasil tambahan yang semakin berkurang.

Untuk memproduksikan barang dan jasa, perusahaan-perusahaan memerlukan factor-faktor produksi, yaitu : tenaga kerja, tanah, modal, dan keahlian keusahawanan. Dalam jangka pendek tanah , modal, tehnologi, dan keahlian keusahawanan dianggap tetap dan factor yang dapat berubah adalah tenaga kerja. Dengan demikian dalam jangka pendek fungsi produksi dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut : Q=f(L)
Maksudnya : jumlah autput atau nilai produksi riil, ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang digunakan. Fungsi produksi jangka pendek tersebut dipengaruhi oleh hokum hasil tambahan yang semakin berkurang, yaitu apabila jumlah tenaga kerja ditambah, produksi marjinal yang diciptakan oleh pertambahan tenaga kerja tersebut adalah lebih rendah dari tenaga kerja sebelumnya. Sebagai contoh : tenaga kerja ke-4 memproduksikan 10 unit . efek dari pada hokum hasil tambahan yang semakin berkurang, tenaga kerja ke-5 akan memproduksikan kurang dari 10 unit, misalnya 8 unit. Oleh karena upah tenaga kerja ke-4 dan ke-5 adalah sama, maka biaya per unit untuk memproduksikan 8 unit adalah lebih mahal dari pada memproduksikan 10 unit.
Dari contoh diatas dapat disimpulkan : efek dari berlakunya hokum hasil tambahan yang semakin berkurang, apabila lebih banyak tenaga kerja digunakan oleh perusahaan-perusahaan, biaya produksi per unit akan semakin meningkat. Oleh sebab itu perusahaan akan menambah produksi dan penawan hanya pada keadaan dimana harga semakin meningkat apabila output ditambah. Kecenderungan ini merupakan salah satu factor mengapa kurva penawaran agregat AS melengkung ke atas. Kurva AS yang melengkung ke atas tersebut menggambarkan ciri perhubungan : semakin tinggi tingkat harga, semakin besar jumlah barang yang di produksikan dan di tawarkan pada para pengusaha.



B. Ciri-ciri Pasaran Tenaga Kerja

1. Pasaran Tenaga Kerja dan Kurva Penawaran Agregat

Dalam pasaran tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna tingkat upah ditentukan oleh permintaan tenaga kerja di gambarkan oleh kurva D , dan penawaran tenaga kerja digambarkan oleh kurva S . Pada ketika permintaan tenaga kerja adalah D tingkat upah adalah W dan jumlah tenaga kerja yang di gunakan dalam ekonomi adalah N . permintaan tenaga kerja yang semakin meningkat, misalnya menjadi D meningkatkan kesempatan kerja menjadi N dan tingkat upah menjadi W . apabila permintaan tenaga kerja mencapai D maka upah mencapai W dan kesempatan kerja menjadi sebanyak N . gambaran ini menunjukan bahwa semakin tinggi kesempatan kerja semakin tinggi tingkat upah yang diterima para pekerja. Upah yang semakin tinggi ini akan menaikan biaya produksi. Maka untuk tetap memperoleh keuntungan dan dapat meneruskan oprasinya, penawaran agregat dalam okonomi hanya akan ditingkatkan oleh perusahaan-perusahaan apbila tingkat harga semakin tinggi. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat harga semakin banyak tingkat pendapatan nasional riil (output pada harga tetap) yang ditawarka perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Keadaan ini menggambarkan bahwa kurva penawaran agregat AS melengkung ke atas.

2. Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kenaikan Upah

Dalam analisis makro ekonomi selalu diperkenalkan kurva Philips , yaitu suatu kurva yang menerangkan ciri perhubungan berikut: (a) perhubungan di antara tingkat kenaikan upah dan tingkat pengangguran, dan (b) perhubungan di antara inflasi dan tingkat pengangguran.
Nama kurva Philips diambil dari orang yang mula-mula melakukan penyelidikan mengenai hubungan di antara kenaikan tingkat upah dengan tingkat pengangguran. Dalam tahun 1958, A.W. Philips, yang pada waktu itu menjadi professor di London School of Economic.
Benyuk kurva Philips : contoh suatu kurva Philips setiap titik dalam contoh tersebut menunjukkan hubungan antara tingkat pengagangguran dan tingkat kenaikan upah nominal. Dua contoh berikut :

i. dalam tahun t yaitu tahun 1998, tingkat pengangguaran adalah u dan tingkat kenaikan upah adalah dw
ii. Dalam tahun t yaitu tahun 2002, tingkat pengangguran adalah u dan tingkat kenaikan upah adalah dw .

Titik-titik t dan t menggambarkan hubungan yang dinyatakan dalam (i) dan (ii). Maksudnya: titik t menunjukan hal yang dinyatakan dalam (i) dan titik t menunjukan hal yang dinyatakan dalam (ii).titik titik lain dalam gambar tersebut menunjukan hubungan diatara tingkat pengangguran dan kenaikan tingkat upah pada berbagai tahun. Kurva Phillips di tentukan berdasarkan kedudukan titik-titik seperti yang di contohkan di atas.apabila data mengenai hubungan antara kenaikan upah dan tigkat pengangguran di kumpulkandi antara tahun 1987 hingga tahun 2002, maka kurva Philips memberikan suatu gambaran umum tentang perhubungan di antara tingkat pengangguran dan tingkat kenaikan upah dalam periode 1987-2002.

Kurva Philips dan Penawaran Agregat penemuan study Philips menimbulkan implikasi penting ke atas pandangan ahli-ahli ekonomi selepas zamannya Keynes mengenai bentuk kurva penawaran agregat AS. Dengan menggunakan kurva Philips dapat di terangkan : (a) bentuk hu8bungan di antara tingkat upah dan tingkat kesempatan kerja, dan (b) bentuk kurva penawaran agregat.
Bagian (a) dari gambar tersebut menunjukkan hubungan di antar tingkat up[ah dan kesempatan kerja yang sesuan dengan cirri kurva Philips. Berdasarkan pada kurva Philips dapat disimpulkan bahwa: (a) semakin tinggi kesempatran kerja, semakin tinggi tingkat upah, dan (b) apabila tingkat kesempatan kerja sangat tinggi yaitu apabila tingkat penggangguran rendah , tingkat kenaikan upah semakin cepat. Berdasarkan kepada ke-2 sifat ini hubungan di antara tingkat upah dan kesempatan kerja adalah seperti yang di tunjukkan oleh kurva WN. Garis tegak N menggambarkan tingkat kesempatan kerja.
















Kesempatan kerja yang semakin tinggi akan menyebabkan nasional rill semakin meningkat dan upah yang semakin meningkat akan menyebabkan biaya prpduksi yang semakin meningkat juga. Maka agar perusahaan-perusahaan terusmendapat untung dalam kegiatan memproduksikqannya , pada tingkat pendapatan nasional yang semakin tinggi harga barang yang di jualnya harus semakin tinggi.
Dengan demikian cirri dari penawaran agregat adalah : (a) pada ketika tingkat upah masih relative stabil, tingkat harga mengalami kenaikan yang relative rendah, dan (b) apabila tingkat kenaikan upah semakin meningkat, tingkat harga akan mengalami keniakan yang lebih cepat. Berdasarkan kepda cirri ini kurva penawaran agregat adalah seperti yang ditunjukkan oleh kurva AS dalam gambar (b). pendapatan nasional Y adalah pendapatan nasional rill yang akan dicapai pada kesempatan kerja penuh yaitu pendapatan nasional riil yang di wujudkan apabila kesempatan kerja mencapai N .

Perpindahan Kurva AS Ke Atas / Ke Kiri

Perpindahan kurva AS menjadi AS dapat dikatakan sebagai “perpindahan ke atas” atau “perpindahan ke kiri”. Apabila dikatan perpindahan ke atas maksunya adalah : pada mulanya harga P perusahaan-perusahaan akan menawarkan barang bernilai Y dan pada perpindahan dari AS menjadi AS berarti penawaran barang bernilai Y akan dilakukan oleh perusahaan apabila tingkat harga mencapi P .
Perubahan AS menjadi AS juga dapat dikatakn perpindahan ke kiri, maksudnya adlah : apabila harga tetap P maka perusahaan-perusahaan akan mengurangi penawaran output dari bernilai Y menjadi Y (pergeseran dari titik A ke A )
Perpindahan kurva penawaran agregat dari AS0 menjadi AS1 dapat disebabkan oleh salah satu atau gabungan faktor-faktor yang diterangkan dalam uraian berikut.

















1. Harga bahan mentah meningkat atau biaya lain meningkat
Kenaikan harga bahan mentah dapat disebabkan oleh (a) harga bahan mentah impor yang semakin mahal, (b) pajak impor yang meningkat, (c) devaluasi atau depresiasi mata uang, dan (d) bahan mentah domestik meningkat harganya. Kenaikan harga minyak di pasaran internasional merupakan suatu contoh dari kenaikan harga bahan mentah.
Apabila harga bahan mentah bertambah maka dengan sendirinya biaya produksi perusahaan-perusahaan akan semakin meningkat. Kenaikan biaya ini menyebabkan perusahaan-perusahaan akan menawarkan sejumlah produksi tertentu pada tingkat harga yang lebih tinggi. Dalam contoh di atas, pada pendapatan nasional riil Y0 harga telah meningkat dari P0 menjadi P1. Efek dari perubahan ini pendapatan nasional nominal telah menjadi bertambah tinggi.
Kenaikan biaya lain yang dapat menyebabkan perubahan dari AS0 menjadi AS1 antara lain adalah: kenaikan biaya listrik dan air, kenaikan biaya pengangkutan dan kenaikan pajak ke atas bahan mentah.

2. Kenaikan upah tenaga kerja
Yang dimaksudkan dengan kanaikan upah tenaga kerja dalam konteks ini adalah kenaikan yang berlaku pada setiap tingkat penggunaan tenaga kerja. Tanpa kenaikan tingkat produktivitas, kenaikan upah tenaga kerja akan meningkatkan biaya produksi. Maka output yang sama (pendapatan nasional riil yang sama) hanya akan ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan apabila tingkat harganya lebih tinggi.

Perpindahan Kurva AS Ke Bawah/Ke Kanan
Perpindahan kurva AS0 menjadi AS2 dapat dinyatakan sebagai perpindahan kurva AS ke bawah, dan maksudnya adalah: Pendapatan nasional riil yang bernilai Y0 akan ditawarkan pada harga P2 dan tidak pada P0. Perpindahan AS0 menjadi AS2 dapat juga dikatakan sebagai perpindahan ke kanan, dan yang dimaksudkan adalah: Apabila harga tetap P0 pendapatan nasional riil yang ditawarkan perusahaan-perusahaan meningkat dari Y0 menjadi Y2 (lihat pergeseran dari titik A ke A,)
Perpindahan kurva penawaran agregat dari AS0 menjadi AS2 dapat disebabkan oleh salah satu atau gabungan faktor-faktor yang diterapkan di bawah ini.
1. Perkembangan teknologi perkembangan teknologi dapat menyebabkan sejumlah output dikeluarkan dengan biaya yang lebi murah. Atau, pda jumlah biaya yang sama, output yang di keluarkan bertambah banyak. Setiap perubahan ini menyebabkan biaya per unit lebih murah dan memungkinkan perusahaan-perusahaan menjual barang dengan harga yang belbih murah pula, sebagai contoh, pada mulanya perusahaan-perusahaan hanya bersedia mengeluarkan dan menawarkan pendapatan nasional riil bernilai Y0 apabila tingkat harga P0. Setelah perkembangan teknologi perusahaan-perusahaan bersedia menawarkan pedapata nasional riil Y0 pada harga P2

2. Perkembangan infastuktur Infrastruktur utama bagi mengemabangkan kegiatan ekonomi dan meningkatkan efisien kegiatan ekonomi adalah: jalan raya, pelabuhan laut, lapangan terbang, kawasan industri, alat-alat perhubungan seperti telepon dan alat pengangkutan, dan fasilitas penyediaan air dan listrik.

3. Pajak, izin usaha dan administrasi pemerintah untuk mendirikan dan menjalankan di beberapa negara, walaupun biaya tenaga kerjanya murah, perusahaan-perusahaan kurang berminat untuk melakukan investasi dan menjalankan operasinya. Disamping karena keadaan infastruktur yang kurang baik, kecenderungan ini disebabkan pula oleh keadaan ekonomi dan politik yang tidak stabil, dan korupsi dalam administrasi pemerintah yang sangat penting untuk menggalakkan investasi swasta-domestik maupun asing, dan mengurangi efisiensi kegiatan perusahaan-perusahaan.

Tidak ada komentar: