Rabu, 06 Oktober 2010

RASIONALITAS EKONOMI

RASIONALITAS EKONOMI

3.1. Pendahuluan
Ilmu ekonomi adalah suatu studi yang mempelajari tentang manusia. Dalam kapitalisme, studi yang dimaksud disini bukanlah tentang manusia secara umum. Tetapi tentang manusia ekonomi yang berprilaku untuk memenuhi kebutuhan atas barang-barang yang jumlahnya terbatas (scarcity). Sehingga secara umum ekonomi adalah studi tentang manusia ekonomi yang rasional. Setiap manusia ekonomi diasumsikan rasional dalam setiap perilakunya, meskipun terkadang dalam kenyataan perilakunya mungkin tidak rasional untuk kepentingan teoritis dimana ia diposisikan sebagaimana seharusnya ia. Hal ini menyebabkan perbedaan rasionalitas dalam kenyataan dan rasionalitas dalam teori menjadi tidak jelas. Rasionalitas menjadi titik perhatian dari ekonomi neo-klasik, dimana hal ini menjadi asumsi fundamental dari setiap model ekonomi dalam teori ekonomi modern dan sistem kapitalis tidak dapat hidup tanpanya.
Seperti telah dijelaskan dalam bab 2, bahwa permasalahan ekonomi muncul sebagai akibat pertentangan antara keinginan dan kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Dimana pertentangan ini menimbulkan masalah kelangkaan (scarcity), untuk memecahkan masalah tersebut dilakukan alokasi terhadap pilihan-pilihan yang menimbulkan kepuasan (utility) tertinggi bagi seorang individu. Dalam menentukan pilihan ini, manusia diasumsikan sebagai homo economicus yang paling mengetahui keinginannya dengan prinsip yang dikenal dengan rasionalitas ekonomi.
Bab ini bermaksud untuk menjelaskan mengenai rasionalitas dalam teori ekonomi, yang akan mencakup konsep rasionalitas dalam pandangan ekonomi konvensional dan pandangan seorang manusia muslim atas konsep rasionalitas. Serta berusaha melakukan definisi kembali atas rasionalitas yang terdapat dalam teori ekonomi modern, serta latar belakang dan runtutan sejarah perkembangan atas konsep rasionalitas.
3.2. Definisi Rasionalitas
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai apa itu rasionalitas, ada baiknya jika harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan oleh para ekonom ketika mereka mengatakan bahwa suatu keputusan yang diambil seorang pelaku ekonomi adalah rasional secara ekonomi. Rasionalitas mungkin akan memiliki maksud dan arti yang berbeda pada setiap orang. Dimana, mungkin saja seorang individu membuat keputusan yang menurut dia itu rasional, sedangkan menurut orang lain itu tidak rasional. Selain itu seringkali terjadi perbedaan yang membingungkan antara rasionalitas menurut fakta dan rasionalitas menurut teori.
Rasionalitas menjadi membingungkan ketika bisa berarti banyak, seperti tidak memihak (dispassionate), beralasan (reasonable), logis (logical), dan mempunyai maksud tertentu (purposeful). Serta lebih lanjut keputusan rasional yang dibuat terkadang tidak selalu sesuai yang diharapkan. Perbedaan pengertian tentang rasionalitas ini pun juga terjadi antar sesama ilmuwan sosial. Dimana rasionalitas menjadi topik yang kontroversial dan tidak ada definisi jelas, lugas, serta gamblang yang bisa diterima secara umum oleh semua pihak.
Dalam literatur-literatur teori ekonomi modern yang tersedia, seorang pelaku ekonomi diasumsikan rasional berdasarkan hal-hal berikut:
1) Setiap orang tahu apa yang mereka mau dan inginkan, serta mampu mengambil suatu keputusan atas sesuatu hal, dari sesuatu yang paling diinginkan (most preferred) sampai dengan yang paling kurang diinginkan (less preferred). Serta setiap individu akan mampu bertindak dan mengambil keputusan secara konsisten.
2) Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan tradisi, nilai-nilai, dan mempunyai alasan dan argumentasi yang jelas dan lugas. Menurut Oscar Lange, hal ini menunjukkan bahwa metodologi rasionalitas adalah ketika hal ini diambil berdasarkan cara berpikir dari setiap pelaku ekonomi itu sendiri.

3) Setiap keputusan yang diambil oleh individu ini harus menuju pada pengkuantifikasian keputusan akhir dalam unit moneter. Pengkuantifikasian ini akan membawa pada perhitungan dan bertendensi untuk memaksimalkan tujuan dari setiap aktivitas, dimana yang sesuatu hal yang lebih baik lebih disukai daripada yang kurang baik.
4) Dalam model produksi dari kapitalisme, rasionalitas berarti kepuasan yang dapat dicapai dengan prinsip efisiensi dan tujuan dari ekonomi itu sendiri. Di sana tidak ada ruang bagi sentimen pribadi atau nilai-nilai tradisional yang tidak dapat dikuantitatifkan dalam unit moneter.
5) Prilaku seorang individu yang rasional dalam mencapai kepuasan berdasarkan kepentingan sendiri (self-interest) akan menuntun pada pembuatan barang-barang sosial yang berguna bagi kemasalahatan umat.
6) Pilihan seseorang dapat dikatakan rasional jika dan hanya jika pilihan ini bisa secara keseluruhan bisa dijelaskan oleh syarat-syarat hubungan konsisten pilihan yang lebih disukai dengan definisi penampakan pilihan yang lebih disukai. Yaitu jika seluruh pilihan ini bisa dijelaskan ketika memilih yang alternatif yang lebih disukai dengan berdasarkan hubungan postulat pilihan yang lebih disukai.
Secara ringkas, rasionalitas dalam banyak ekonomi literatur berarti kepentingan sendiri (self interest) dan pada saat yang bersamaan konsisten pada pilihan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dimana bisa dikuantifikasikan menuju maksimalisasi beberapa ide kesejahteraan yang umum.






3.3. Tipe Rasionalitas
Ada dua tipe rasionalitas, dimana dua tipe rasionalitas ini berlaku pada tingkat individu. Sedangkan pada tingkat kolektif terdapat rasionalitas pula. Dua tipe rasionalitas ini adalah (Adiwarman; 2001):
1) Rasionalitas kepentingan pribadi (self interest rationality)
Menurut Edgeworth prinsip pertama dalam ilmu ekonomi adalah setiap pelaku ekonomi hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi (self interest) seorang individu. Namun salah satu hal yang ingin dicapai oleh teori kepuasan modern saat ini adalah upaya pembebasan ilmu ekonomi dari prinsip pertama yang sangat meragukan dan tidak jelas ini.
Kepentingan pribadi disini tidak harus selalu diartikan dengan penumpukan kekayaan dan harta oleh seseorang. Dimana kepentingan pribadi yang diasumsikan disini adalah setiap individu akan selalu mengejar berbagai tujuan dalam hidup ini, dan tidak hanya memperbanyak kekayaan secara moneter saja. Tujuan-tujuan tersebut bisa saja dalam bentuk prestise, cinta, aktualisasi diri, dan lainnya. Serta dapat pula dipertimbangkan disini adalah pencapaian individu untuk menjadi lebih baik dengan membuat lingkungan sekelilingnya menjadi lebih baik pula pada saat yang sama.
2) Rasionalitas berdasarkan tujuan yang ingin dicapai saat ini (present aim rationality)
Teori kepuasan modern yang aksiomatis tidak berasumsi bahwa manusia selalu bersikap mementingkan dirinya sendiri. Teori ini berasumsi bahwa manusia menyesuaikan preferensinya dengan sejumlah aksioma. Secara jelasnya dikatakan bahwa preferensi yang diambil haruslah konsisten. Penyesuaian terhadap aksioma-aksioma ini tanpa harus menjadi hanya mementingkan diri sendiri (self interest).
3.4. Fenomena Sejarah
Suatu fakta sejarah mengungkapkan bahwa rasionalitas adalah suatu konsekuensi atas faktor ekonomi dan agama, dimana menjadi faktor utama ini menjadi landasan dasar dalam pembahasan mengenai perkembangan kapitalis. Dalam masa periode awal merkantilis, para pedagang mencari keuntungan tinggi karena dua faktor:
1. Kebijakan yang memberikan keuntungan berlebih kepada kaum pedagangan dengan memberikan perlakuan-perlakuan khusus yang bersifat monopolistik
2. Faktor agama yang berasal dari pengajaran Katolik yang mengutuk kekayaan, dimana kesejahteraan ekonomi dan kekayaan akan berlawanan dengan pengajaran oleh gereja.
Pada akhir abad 17, pasar kapitalis, yang berkembang secara maju dan signifikan atas produksi dan perdagangan. Kemudian berdasarkan konteks ini, teori baru tentang prilaku manusia telah lahir. Dalam hal ini sifat menang sendiri dan egois adalah menjadi hal yang utama, jika tidak dapat dikatakan sebagai satu-satunya yang menjadi acuan manusia dalam beraktivitas. Etika Protestan kemudian diformulasikan untuk mendukung dan menjadi alasan dalam motif kepentingan pribadi (self-interest) dalam ekonomi kapitalis. Sebagai hasil atas perubahan ini, doktrin individualis dan egois ini mulai mendominasi dalam pemikiran ekonomi. Sehingga jelas bahwa rasionalitas yang bersifat egois merupakan perlawanan atas peraturan negara dan anti-gereja.
Dengan kata lain, proses sejarah merupakan hasil dari perkembangan perdagangan kapitalis dan metode produksi kapitalis. Dunia menjadi saksi perubahan filosofi atas merkantilis menuju kepada perdagangan bebas dan liberalisasi ekonomi. Prinsip dari rasionalitas ekonomi menunjukkan sendiri secara penuh pada awalnya di dalam sejarah perkembangan aktivitas ekonomi seseorang. Konsep manusia ekonomi yang rasional, dipandu oleh kepentingan pribadi (self-interest) yang diturunkan dari proses sejarah, yang tidak mempunyai perasaan dan emosi serta tidak memperhitungkan sentuhan-sentuhan kemanusiaan seperti simpati dengan sesama, perhatian moral, rasa religius, dan prilaku lainnya. Prilaku individu ini penting dalam rangka mencapai barang-barang sosial. Dalam sistem persaingan sempurna, setiap individu dituntun oleh kepentingan pribadi, serta diatur oleh tangan-tangan gaib (invisible hand) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan secara umum. Dalam model ini, prilaku manusia berdasarkan asumsi dari rasionalitas egois yang menjadi titik perhatian dalam ekonomi neo-klasik.

3.5. Aksioma-Aksioma Rasionalitas Ekonomi
1. Kelengkapan (completeness)
Aksioma ini mengatakan bahwa setiap individu selalu dapat menentukan keadaan mana yang lebih disukainya di antara dua keadaan. Bila A dan B adalah dua keadaan yang berbeda, maka individu selalu dapat menentukan secara tepat satu diantara kemungkinan-kemungkinan berikut ini:
• A lebih disukai daripada B
• B lebih disukai daripada A
• A dan B sama-sama disukai
• A dan B sama-sama tidak disukai
Sebagai contoh, seorang individu hendak membeli mobil merek Honda dan Toyota, maka pilihan yang mungkin dilakukan adalah:
• Mobil merek Honda lebih disukai daripada Toyota
• Mobil merek Toyota lebih disukai daripada Toyota
• Mobil merek Honda dan Toyota sama-sama disukai
• Kedua merek mobil sama-sama tidak disukai
2. Transitivitas (transitivity)
Aksioma ini menerangkan mengenai konsistensi seseorang dalam menentukan dan memutuskan pilihannya bila dihadapkan oleh beberapa alternatif pilihan produk. Dimana jika seorang individu mengatakan bahwa “produk A lebih disukai daripada produk B”, dan “produk B lebih disukai daripada produk C”, maka ia pasti akan mengatakan bahwa “produk A lebih disukai daripada produk C”. Aksioma ini sebenarnya untuk memastikan adanya konsistensi internal di dalam diri individu dalam hal pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa pada setiap alternatif pilihan seorang individu akan selalu konsisten dalam memutuskan preferensinya atas suatu produk dibandingkan dengan produk lain.Sebagai contoh, seorang individu hendak membeli telpon genggam (Hp) antara merek Nokia, Samsung dan Siemens. Ia lebih menyukai Hp Nokia daripada Samsung; Dan ia lebih menyukai Hp Samsung daripada Siemens, maka ia pasti akan lebih menyukai Hp Nokia daripada Hp Siemens
3. Kesinambungan (continuity)
Aksioma ini menjelaskan bahwa jika seorang individu mengatakan “produk A lebih disukai daripada produk B”, maka setiap keadaan yang mendekati produk A pasti juga akan lebih disukai daripada produk B. Sebagai contoh, dimana seorang individu lebih menyukai telpon genggam (Hp) dengan merek Nokia daripada merek Siemens, maka setiap tipe model dari Hp merek Nokia apapun akan jauh lebih disukai daripada tipe model apapun dari Hp merek Siemens.
4. Lebih banyak lebih baik (the more is the better)
Aksioma ini menjelaskan bahwa jumlah kepuasan akan meningkat, jika individu mengkonsumsi lebih banyak barang atau produk tersebut. Hal ini bisa dijelaskan dengan kurva kepuasan konsumen –dalam ilmu ekonomi hal ini dikenal dengan kurva indiference (indiference curve)- yang semakin meningkat akan memberikan kepuasan yang lebih baik. Sehingga konsumen cenderung akan selalu menambah konsumsinya demi kepuasan yang akan didapat. Meskipun dalam peningkatan kurva indiference ini akan dibatasi oleh penghasilan (budget constraint).
Sedangkan bagi konsumen muslim hal di atas masih harus dimodifikasi lagi, sebab tidak cukup bila hanya mengandalkan pada prinsip rasionalitas yang diajukan oleh ekonomi konvensional, yaitu:
1. Objek yang halal dan thayib (halal dan thayib things)
Dalam Islam individu dibatasi oleh aturan-aturan syari’at, dimana ada beberapa barang yang tidak boleh dikonsumsi karena ada suatu alasan tertentu, barang ini hukumnya haram. Sehingga konsumen muslim hanya boleh mengkonsumsi barang atau objek yang halal saja, baik produknya maupun prosesnya. Oleh karenanya hanya produk-produk yang halal dan thayib (yang mendatangkan kebaikan) saja yang bisa dikonsumsi oleh seorang konsumen muslim dalam aktivitasnya sehari-hari. Sebab bisa saja ada produk-produk yang halal namun tidak thayib apabila dikonsumsi. Sebagai contoh: mengkonsumsi rokok sifatnya tidak haram namun tidak thayib sebab manfaat yang didapat lebih sedikit dibandingkan dengan dampak atau akibat tidak baik yang akan diterima.
2. Lebih banyak tidak selalu lebih baik (the more isn’t always better)
Aksioma ini mengkritik aksioma ke-4, dimana sesuatu yang lebih tidak selalu lebih baik. Hal ini terjadi pada barang-barang yang menimbulkan kemafsadatan dan kemudharatan bagi individu yang mengkonsumsinya. Bila produk-produk ini dikonsumsi semakin banyak justru akan menyebabkan individu dan masyarakat menjadi lebih buruk kondisinya. Misalkan, konsumsi atas alkohol tidak memberikan kepuasan (utility) yang lebih baik, bahkan akan menimbulkan dis-utility. Atau mengkonsumsi daging kambing yang berlebih-lebihan justru akan mendatangkan kemudharatan, karena akan timbul penyakit seperti kolesterol dan asam urat.

3.6. Perspektif Islam Tentang Rasionalitas
Rasionalitas dalam prilaku pembelian oleh konsumen muslim haruslah berdasarkan aturan Islam, sebagai berikut:
1) Konsumen dinyatakan rasional jika pembelanjaaan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hal ini sesuai dengan QS Al-Israa: 29

وَلاَتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَتَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا {29}
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kami menjadi tercela dan menyesal” (QS Al-Israa: 29)

2) Seorang konsumen dapat dibilang rasional jika ia membelanjakan tidak hanya untuk barang-barang yang bersifat duniawi semata, melainkan turut pula untuk keperluan di jalan Allah SWT. Hal ini sesuai dalam QS Al-Israa: 26 :

وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَي حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَتُبَذِّرْ تَبْذِيرًا {26}

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS Al-Israa: 26).

وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا {67}

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS Al-Furqaan: 67).
3) Seorang konsumen rasional mempunyai tingkat konsumsi yang lebih kecil daripada konsumen non-muslim dikarenakan konsumsi hanya diperbolehkan untuk barang-barang yang halal dan thoyib saja.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {173}

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Baqarah: 173)
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحُُ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَااتَّقُوْا وَءَامَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَّأَحْسَنُوا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {93}
“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Al-Maaidah: 93).
4) Konsumen rasional hanya jika ia tidak menimbun kekayaan melalui tabungan saja, tetapi harusmelakukan investasi yang dapat mengembangkan sirkulasi uang dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi. Karena tabungan yang tidak diinvestasikan akan terkena zakat.
Berdasarkan konsep rasionalitas dalam buku-buku ekonomi konvensional, berbagai aksioma-aksioma dan persyaratan yang terdapat perlu dilakukan suatu perubahan dan modifikasi dalam ekonomi Islam agar dapat diaplikasikan oleh para konsumen muslim, yaitu:

1. Perluasan konsep rasionalitas
Pertama-tama, pendapat tentang self interest rationality yang diperkenalkan oleh Edgeworth adalah konsep yang lebih baik dalam artian kita berasumsi bahwa individu mengejar banyak tujuan, bukan hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Namun konsep ini terlalu longgar sehingga tindakan apapun dari seseorang dapat dijustifikasi sebagai rasional hanya karena seseorang tersebut menyatakan bahwa tindakannya didorong oleh self interest-nya. Kedua, pendapat bahwa teori modern tentang keputusan rasional tidak disepakati secara menyeluruh. Versi yang berbeda memiliki aksioma yang berbeda, tapi kesemuanya sekurang-kurangnya menyepakati aksioma transitivitas. Transitivitas adalah syarat minimal konsistensi: jika konsistensi tidak mensyaratkan transitivitas, maka sesungguhnya ia tidak mensyaratkan apapun. Sebenarnya tidak semua aksioma teori keputusan rasional merupakan syarat dari konsistensi. Contohnya, salah satu aksioma adalah kelengkapan terhadap pasangan alternatif apapun dari A dan B, kita dapat memilih A daripada B, B daripada A, atau sama saja antara A dan B. Hal ini tidak dipersyaratkan oleh konsistensi.
Dalam nilai Islam terdapat dua cara untuk mendistribusikan pendapatan yaitu zakat (sifatnya wajib) dan infak (sifatnya sukarela). Dalam kebanyakan kasus, sektor sukarela tidak dapat secara mutlak dijelaskan bahwa tindakan sukarela ini memenuhi persyaratan transitivitas. Jika pekerjaan dengan gaji Rp 10 juta lebih disukai daripada pekerjaan dengan gaji Rp 5 juta; dan pekerjaan dengan gaji Rp 5 juta lebih disukai daripada pekerjaan dengan gaji Rp 2 juta. Apakah masuk akal jika pekerjaan dengan gaji Rp 2 juta lebih disukai daripada pekerjaan dengan gaji Rp 10 juta? Menurut aksioma transitivitas hal ini dianggap tidak masuk akanl/irrasional karena tidak konsisten. Namun bila dikaitkan dengan sektor sukarela hal-hal yang sepertinya irrasional seperti ini dapat dijelaskan sebagai suatu hal yang rasional.
a. Persyaratan transitivitas
Andaikan seseorang dihadapkan pada pilihan antara A dan B, ia akan memilih A. Bila dihadapkan pada pilihan B dan C, ia memilih B. Dihadapkan pada pilihan antara C dan A. Pilihan ini kelihatannya intransitif karena kita melihat bahwa ia hanya memiliki tiga alternatif yakni: A, B, dan C. Namun hal ini dapat kita rinci :
Simbol Alternatif
Ab Memilih A jika B merupakan satu-satunya alternatif yang ada
Ba Memilih B jika A merupakan satu-satunya alternatif yang ada
Bc Memilih B jika C merupakan satu-satunya alternatif yang ada
Cb Memilih C jika B merupakan satu-satunya alternatif yang ada
Ca Memilih C jika A merupakan satu-satunya alternatif yang ada
Ac Memilih A jika C merupakan satu-satunya alternatif yang ada

Maka orang ini memilih Ab daripada Ba, Bc daripada Cb, dan Ca daripada Ac. Dalam hal ini tidak terdapat intransitivitas. Perhatikan bahwa Ca bukan Cb. Sekilas awal kelihatannya pilihan tersebut intransitif, karena kita hanya melihat tiga pilihan, yakni: A, B, dan C. Akan tetapi untuk orang ini akan melihat empat pilihan, yaitu: Ab, Bc, Cb, dan Ca.
Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh lain, katakanlah Hasan mempertimbangkan 3 jenis mobil untuk dibeli. Bagi Hasan, bentuk body mobil dan mesin merupakan faktor penentu. Secara spesifik, Hasan merumuskan preferensinya sebagai berikut:
1) Jika perbedaan mesin tidak signifikan, yakni <2 maka bentuk body merupakan faktor penentu 2) Jika perbedaan mesin signifikan, yakni > 2, maka mesin merupakan faktor yang menentukan.
Menurut evaluasi Hasan, skor untuk mobil-mobil tersebut adalah:
Merek Mobil Body Mesin
Toyota Vios 9 5
Honda City 8 6
Peugeot 206 7 7
Kemudian Hasan membuat alternatif:
Pilihan antara Perbedaan mesin Faktor penentu Pilihan Preferensi
Toyota Vios & Honda City 1 Body Toyota Vios Toyota Vios daripada Honda City
Honda City & Peugeot 206 2 Body Honda City Honda City daripada Peugeot 206
Peugeot 206 & Toyota Vios 3 Mesin Peugeot 206 Peugeot 206 daripada Toyota Vios

Sekali lagi walaupun Hasan lebih menyukai Peugeot 206 daripada Toyota Vios, kita tidak dapat menyatakan bahwa Hasan tidak rasional dalam pengertian bahwa ia tidak konsisten. Hasan rasional, konsisten dan tidak terdapat intransitivitas dalam keputusannya. Hasan tidak hanya melihat tiga pilihan, Toyota Vios (A), Honda City (B) dan Peugeot 206 (C). Baginya pilihannya adalah:
1) Toyota Vios, jika Honda City merupakan alternatif satu-satunya (Ab lebih disukai daripada Ba)
2) Honda City, jika Peugeot 206 merupakan alternatif satu-satunya (Bc lebih disukai daripada Cb)
3) Peugeot 206, jika Toyota Vios merupakan alternatif satu-satunya (Ca lebih disukai daripada Ac).
b. Utilitas dan infak
Mari kita berlanjut pada utilitas Farid yang merasa lebih baik jika ia membelanjakan uangnya untuk infak. Fungsi utilitasnya dapat didefinisikan sebagai Uf = f(Mf, Mz), dimana:
Uf = utilitas Farid
Mf = uang yang dimiliki Farid
Mz = uang yang dimiliki Zahir
Slope (kemiringan) kurva utilitas Farid negatif karena menurut Farid infak adalah hal yang baik. Kemiringan negatif juga berarti bahwa Farid mengurangi pendapatannya agar pendapatan Zahir bertambah. Berapa jumlah pendapatan yang bersedia diserahkan oleh Farid bergantung pada budget line (garis anggaran). Titik A adalah solusi optimal untuk Farid.












2. Perluasan spektrum utilitas
Perluasan spektrum utilitas berlaku untuk strong monotonicity & local nonsatiation, dalam perspektif Islam lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Asumsi lebih banyak lebih baik hanya benar jika harus memilih antara X halal dan Y halal. Tidak benar jika kita harus memilih antara X halal dan Y haram; atau X haram dan Y halal; atau X haram dan Y haram. Nilai Islam tentang halal dan haram membuat kita harus memperluas spektrum utilitas.

























Sekarang kita dapat menggambarkan 4 tipe fungsi utilitas:















Tipe X Tipe Y Solusi Optimal
X halal Y halal Pada MRS = slope budget line
X halal Y haram Solusi sudut pada Y = 0
X haram Y halal Solusi sudut pada X = 0
X haram Y haram Pada titik origin (0,0)

3. Melonggarkan persyaratan kontinuitas
Mari diasumsikan bahwa permintaan Y haram dalam keadaan darurat. Anda dapat membayangkan permintaan terhadap daging babi jika tidak ada makanan halal yang tersedia, permintaan terhadap babi ini bukan merupakan permintaan yang kontinu melainkan diskrit. Karena itu permintaannya adalah permintaan titik (point demand). Berapapun harga daging babi pada saat itu, permintaannya Qp, yakni sejumlah tertentu daging babi untuk memenuhi kelangsungan hidup dan setelah masa darurat lewat daging babi tidak akan dikonsumsi lagi.

4. Perluasan horison waktu
Perspektif Islam tentang waktu tidak dibatasi hanya pada masa kini. Islam memandang waktu sebagai horison. Karena itu analisis statis sebagaimana dikenal oleh ekonom-ekonom klasik tidak memadai untuk menerangkan perilaku ekonomi dalam perspektif Islam. Dalam perspektif Islam, waktu sangat penting dan sangat bernilai. Nilai waktu bergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya, semakin produktif seseorang memanfaatkan waktunya semakin banyak nilai yang diperolehnya. Bagi setiap orang, sehari adalah 24 jam, tapi nilai waktunya akan berbeda-beda.
3.7. Kesimpulan
Dalam mengalokasikan kebutuhannya yang tidak terbatas, dimana berhadapan dengan sumber daya yang terbatas, setiap individu menggunakan prinsip rasionalitas dalam mencapai kepuasan yang maksimum. Rasionalitas merupakan pengembangan dari asumsi bahwa manusia adalah homo economicus. Hal ini berarti bahwa setiap individu paling mengetahu kepuasan yang maksimum bagi dirinya. Rasionalitas mempunyai 4 aksioma, yaitu: completeness, transitivity, continuity, dan the more is the better. Dimana aksioma ini dalam ekonomi Islam ditambahkan halal things, dan the more isn’t always the better serta dilakukan beberapa perluasan seperti perluasan pada persyaratan transitivitas, spektrum utilitas, melonggarkan persyaratan kontinuitas, dan perluasan horison waktu.


KEYWORDS
Halal things
Kelengkapan (completeness)
Kesinambungan (continuity)
Rasionalitas
Transitivitas
The more is the better
The more isn’t always the better

Tidak ada komentar: