Rabu, 06 Oktober 2010

SISTEM KOORDINASI SISTEM SARAF

" SISTEM KOORDINASI "

A. SISTEM SARAF

Alat penerima rangsang dinamakan reseptor. Rangsangan berasal dari luar tubuh, misalnya bau, rasa, sentuhan, cahaya, suhu, tekanan ataupun gaya berat. Indera yang mampu menerimanya disebut reseptor luar (eksteroseptor). Rangsangan dari dalam tubuh dapat berupa rasa lapar, kenyang, nyeri dan kelelahan. Indera penerimanya disebut reseptor dalam (interoseptor). Rngsangan yang diterima oleh reseptor akan dihantarkan ke sistem saraf pusat oleh neuron sensori dan tanggapanakan disampaikan oleh neuron motor ke efektor.
Penyusunan jaringan saraf pada dasarnya, ada dua yaitu sel neuron dan Ineuroglia.

1. Sel Saraf (Neuron)
Sel neuron terdiri atas tiga bagian, yaitu 1) Badan sel, yang berwarna kelabu dan mengandung nukleus dan nukleolus, 2) Dendrit, lanjutan plasma dan berfungsi meneruskan implus saraf (informasi) menuju ke badan sel, dan 3) Akson, yang berfungsi untuk meneruskan implus saraf dari badan sel ke sel lain.
Sel neuron merupakan sel yang mempunyai sifat melanjutkan informasi, baik dari organ penerima rangsang ke pusat susunan saraf atau sebaliknya. Sel neuroglia selain memungkinkan terjadinya kegiatan neuron, juga yang memberikan nutrisi pada sel neuron serta memberikan bahan yang diperlukan untuk hidupnya.

a. Badan Sel
Badan sel saraf mengandung inti sel yang besar dan berbentuk seperti pembuluh dengan membran yang tipis. Inti sel mengandung satu anak inti besar yang kaya akan RNA (Asam Ribo Nukleat) dan sitoplasma yang disebut neuroplasma.

b. Dendrit
Dendrit merupakan serabut saraf yang pendek dan bercabang – cabang. Dendrit berfungsi untuk menerima implus (rangsangan) yang datang dari ujung akson neuron lain. Kemudian implus dibawa menuju ke badan sel saraf.

c. Neurit (Akson)
Neurit merupakan serabut yang panjang. Fungsi akson ialah meneruskan implus yang berasal dari badan sel saraf ke kelenjar dan serabut – serabut otot. Selubung sel saraf yang mengelilingi akson terdiri dari substansi lemak.
Selubung ini tidak berinti disebut juga selubung myelin dan tersusun dari rangkaian sel – sel Schwann.



Pertemuan selubung mielin satu dengan yang lain terdapat bagian akson tidak terlindung disebut nodus Ranvier.
Nodus Ranvier berfungsi mempercepat jalannya implus.



2. Prinsip Penghantar Implus
Implus yang diterima oleh neuron sensori dihantarkan melalui sel saraf dan sinapsis. Sinapsis merupakan titik pertemuan antara terminal neuron yang satu dengan yang lainnya.



















Menurut struktur dan fungsinya neuron dapat dikelompokkan menjadi 3

Nama Struktur Fungsi
Neuron sensorik Badan selnya bergelombang membentuk ganglia. Aksonnya pendek, sedangkan dendritnya panjang. Membawa rangsangan ke system saraf pusat
Interneuron (Neuron Intermediet) Dendritnya pendek dan aksonnya ada yang pendek dan panjang. Menerima rangsangan dari neuron sensori atau neuron intermediet yang lain.
Neuron motor Dendrit pendek dan aksonnya panjang. Membawa atau meneruskan implus dari system saraf pusat ke efektor

a. Penghantar Lewat Sel Saraf
Jika tidak ada rangsangan (neuron dalam keadaan istirahat) muatan listrik di luar membran neuron adalah positif, sedangkan muatan listrik di dalam neuron adalah negatif. Keadaan seperti ini disebut juga polarisasi.
Jika neuron dirangsang dengan kuat maka permeabilitas membran akan berubah. Akibatnya polarisasi membran berubah. Polarisasi mengalami perbaikkan dan diulang sehingga menyebabkan rantai reaksi, misalnya implus berjalan sepanjang akson.
Setelah implus berlalu membran neuron memulihkan keadaan seperti semula. Selama masa pemulihan ini, implus tidak bisa melewati neuron. Waktu pemulihan disebut periode refraktori.

b. Penghantar Lewat Sinapsis
Sinapsis adalah penghubung yang mengendalikan komunikasi antar neuron.

Struktur Sinapsis
Pada sistem neuron, aksonnya berakhir pada suatu tonjolan kecil yang disebut tombol sinapsis. Permukaan membran tombol sinapsis disebut membran pra-sisnapsis berfungsi melakukan transmisi rangsangan dan permukaan membran dendrit dari sel yang dituju disebut membran post-sinapsis; berfungsi sebagai penerima transmisi rangsangan. Kedua membrane tersebut dipisahkan oleh celah sinapsis.
Pada sitoplasma tombol sinapsis terdapat neurotransmitter. Neurotransmitter merupakan zat kimia yang dapat menanggapi implus elektrit pada neuron dan dapat mentransimikan implus ke neuron berikutnya.










Mekanisme Kerja Sinapsis
Jika implus tiba ditombol sinapsis maka terjadi peningkatan permeabilitas membran pra-sinapsis terhadap ion Ca . Akibatnya, ion Ca masuk . Gelembung sinapsis melebur dengan membran pra-sinapsis sambil melepaskan neurotransmitternya kecelah sinapsis.
Neurotransmitter membawa implus ke membran post-sinapsis.Setelah menyampaikan implus neurotransmitter dihidrolisis oleh enzim yang dikeluarkan membran post-sinapsis, misalnya asetilkolinesterase.
















3. Gerak Refleks
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan yang biasanya mengejutkan atau menyakitkan, misalnya bila kaki menginjak paku. Otomatis kita akan melakukan gerak tanpa disadari, misalnya menarik kaki dengan cepat. Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa karena rangsangan tidak diolah diotak terlebih dahulu. Ada 2 macam gerak refleks yaitu refleks pinal dan refleks kranial. Jalur perjalanan gerak refleks adalah : Rangsangan resptor neuron sensori sumsum tulang belakang neuron motor efektor.









4. Struktur Saraf Pusat dan Saraf Tepi
Sebagai sistem koordinasi yang fungsinya mengatur dan mengendalikan, maka dikenal adanya pusat pengaturan yang disebut sistem saraf pusat, dan sistem yang menyampaikan informasi ke pusat pengaturan ataupun sebaliknya disebut sistem saraf tepi.
a. Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum. Otak dibedakan menjadi otak besar, otak tengah, otak depan, dan otak kecil. Sumsum dibedakan menjadi sumsum lanjutan dan sumsum tulang belakang.
Otak maupun sumsum dilindungi oleh selaput yang terdiri atas jaringan pengikat yang disebut meninges. Meninges dapat dibedakan 3 macam, yaitu lapisan paling luar (duramater), merupakan selaput yang kuat, lapisan tengah disebut arachnoid, lapisan paling dalam disebut piamater.
Di antara piamater dan arachnoid terdapat ruang yang disebut ruang subarachnoid, berisi cairan yang disebut cairan serebrospinal. Cairan ini juga merupakan pelindung karena sifatnya meredam benturan yang mungkin terjadi, baik pada otak yaitu, antara otak dan tulang kepala, maupun pada sumsum tulang belakang yaitu antar sumsum tulang belakang dengan tulang belakang.

Bagian otak dan Derivat Utamanya

Bagian otak Derifat utamanya
Otak depan (Prosensefalon)
- Telensefalon

- Diensefalon
Bulbus olfaktori
Hemisfer serebrum
Epitalamus, badan pineal, talamus, hipotalamus, kelenjar pituitari (sebagian)
Otak tengah (Mesensefalon)
Kolikulus superior
Kolikulus Inferior
Otak belakang (Rombensefalon)
- Metensefalon
- Mielensefalon

Serebelum
Medula oblongata

















SISTEM SARAF PUSAT

a. Otak Depan (Prosensefalon)
Telensefalon
Hemisfer Serebrum adalah bagian terbesar dan terdepan dari otak manusia, mempunyai 4 lobus : frontal, pariental, okspital dan temporal. Fungsinya mengontrol perilaku yang telah dipelajari, pusat kesadaran, kecerdasan, ingatan, dan interpretasi kesan.
Serebrum dapat dibedakan menjadi 3 area, yaitu :
1) Area Sensori : adanya kaitan dengan adanya penerimaan rangsang dari organ penerima rangsang (reseptor) pada indera.
2) Area motor : Berperan merespon rangsang yang sampai ke otak melalui informasi atau perintah ke efektor, misalnya ke otot, kelenjar.
3) Area Asosiasi : Menghubungkan area sensori dan area motor berperan penting dalam proses belajar, seperti berfikir, membuat keputusan, menyimpan ingatan dan belajar bahasa.
Diensefalon
Otak besar (Diensefalon) terdiri atas talamus dan hipotalamus. Talamus berfungsi untuk menerima semua rangsangan yang berasal dari reseptor, kecuali bau, dan meneruskan ke area sensorik serebrum. Hipotalamus mempunyai fungsi yang berkaitan dengan pengaturan suhu, pengaturan nutrien, penjagaan agar tetap bangun, dan penumbuhan sifat agresif.

b. Otak Tengah (Mesensefalon)
Bagian–bagian otak tengah berupa lobus optik (kolikulus superior) sebagai pusat pengatur gerak bola mata, refleks pupil dan refleks akomodasi bagian lain yaitu kolikulus inferior merupakan pusat dari auditori (pendengaran) selain itu juga mengandung sekelompok sel saraf yang mengatur tonus otot dan bentuk tubuh.

c. Otak Belakang (Robensefalon)
Metensefalon
Otak kecil (Serebelum)
Serebelum berkembang menjadi pusat keseimbangan dan koordinasi motor/gerakan. Serebelum menerima informasi dari otot dan telinga, memantau orientasi tubuh dalam ruang, derajat kontraksi otot rangka dan memantau kedudukan posisi tubuh.
Bagian dasar metensefalon berkembang menjadi pons (jembatan). Fungsi utama serebelum adalah mengkoordinasi gerakan otot pada kedua sisi tubuh. Pons mengandung nukleus (inti) yang meneruskan implus dari serebrum ke serebelum.
Mielensefalon
Medula oblongata
Terletak dibagian antara sumsum tulang belakang dengan bagian otak lainnya, fungsinya mengatur denyut jantung, tekanan darah, gerakan pernapasan, sekresi ludah, menelan, gerakan peristaltik, batuk, bersin.

d. Otak Besar (Serebrum)
Otak besar terdiri dari bagian belakang (lobus oksipitalis), bagian samping (lobus temporalis) dan bagian depan (lobus frontalis). Lobus oksipitalis mempunyai peranan yang berhubungan dengan penglihatan.
Pusat pendengaran terletak pada serebrum bagian samping (lobus temporalis) disebelah atas telinga. Serebrum bagian depan ada kaitannya dengan pengendalian gerak otot. Serebrum bagian belakang bersifat sensorik karena peka terhadap perubahan yang menyangkut panas, dingin, tekanan dan sentuhan pada alat indera dikulit.
Mengingat bahwa serebrum dapat menerima, mengendalikan dan mengatur kerja organ – organ tertentu, maka serebrum dibedakan menjadi beberapa area, yaitu : 1) area sensorik, yang ada kaitannya dengan penerimaan rangsang dari organ penerima (reseptor) yang terletak di indera, 2) area motorik, yang berperan untuk merespon rangsangan yang sampai ke otak, 3) area asosiasi yang menghubungkan area motorik dan area sensorik.

e. Sumsum Lanjutan
Peranan sumsum lanjutan atau medulla oblongata adalah mengatur denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, melakukan gerak menelan, batuk, bersin dan bersendawa serta muntah. Bagian sumsum lanjutan yang menghubungkan sumsum tulang belakang dan otak disebut pons. Fungsinya pada pengaturan pernapasan.

f. Sumsum Tulang Belakang
Sumsum tulang belakang merupakan lanjutan medula oblongata terus ke bawah sampai ke vertebrata lumbalis kedua.
Sumsum tulang belakang merupakan tali putih kemilau dari dasar otak terus ketulang belakang. Irisan melintang sumsum tulang belakang dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian luar dari bahan putih yang disebut substansi alba.
Bagian dalamnya berupa bahan abu-abu disebut substansi grissea dan berbentuk kupu–kupu. Secara vertikal dalam bahan abu–abu terdapat saluran tengah (kanal sentral) yang berisi cairan sererospinal.
Substansi alba mengandung akson bermielin, berfungsi menghantarkan implus menuju otak dan dari otak ke efektor. Substansi grissea mengandung serat–serat saraf tidak bermielin dan sinapsis. Substansi grissea dibedakan menjadi 2, yaitu :
- akar dorsal yang mengandung saraf sensori dan dendritnya berhubungan dengan reseptor.
- akar ventral yang mengandung badan sel saraf motor dan membawa implus dari otak ke efektor.
Fungsi utama sumsum tulang belakang adalah :
- Penghubung implus dari dan ke otak
- Memberi kemungkinan jalan terpendek pada gerak refleks


















SISTEM SARAF PERIFERI/SARAF TEPI

Terdiri dari pasangan – pasangan saraf kranial (keluar dari otak) dan saraf spinal (keluar dari sumsum tulang belakang) yangmenghubungkannya dengan tiap reseptor dan efektor dalam tubuh. Sistem saraf tepi dibagi menjadi sistem sensori somatik dan sistem autonom.
Sistem saraf tepi berdasarkan arah implusnya terbagi menjadi 2, yaitu sistem aferen dan sistem eferen. Sistem aferen yaitu yang menghantarkan informasi dari reseptor ke sistem saraf pusat. Sistem eferen yaitu yang menghantarkan informasi dari sistem saraf pusat ke otot dan kelenjar.

1) Sistem Sensori Somatik
Sistem ini terdiri atas 12 pasang saraf kranial dan 31 pasang saraf pinal. Sistem saraf somatik mengandung saraf eferen yang menghantarkan implus dari system saraf pusat kejaringan otot rangka. Sistem ini menghasilkan gerakan hanya dijaringan otot rangka.

a. Saraf Kranial
Saraf kranial : I,II dan VIII terdiri atas neuron sensori; saraf nomor III,IV,VI,XI dan XII terdiri atas neuron – neuron motor nomor V,VII,IX terdiri atas gabungan neuron motor dan sensori. Saraf nomor X saraf yang mempunyai daerah jelajah luas disebut sebagai saraf pengembara.

Saraf Kranial

No. Nama Saraf Asal Saraf Sensori Asal Saraf Motor
I. Olfaktori Selaput lender hidung Tidak ada
II. Optik Retina mata Tidak ada
III. Okulomotorik Otot penggerak bola mata Otot penggerak bola mata pengubah tebal lensa mata, penyempitan pupil.
IV. Troklear Otot pnggerak bola mata (obliks superior) Otot lain penggerak bola mata.
V. Trigeminal Gigi dan kulit muka serta rahang Otot pengunyah
VI. Abdusen Otot peggerak bola mata rektus eksternal Otot lain penggerak bola mata.
VII. Fasial Ujung pengecap di ujung lidah, wajah, bibir dan kelopak mata. Otot muka, kelenjar ludah.
VIII. Auditori Koklea dan saluran semisirkular. Tidak ada
IX. Glosofaringeal Ujung pengecap dilidah belakang Kelenjar parotis, otot penelan dilaring.
X. Vagus Ujung saraf dialat dalam, paru – paru lambung, aorta, laring. Saraf parasimpatetik,ke jantung, ke lambung, usus halus, laring, kerongkongan.
XI. Spinal Otot belikat Otot di belikat
XII. Hipoglosal Otot lidah Otot di lidah

b. Saraf Spinal
Urat saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang dan merupakan gabungan neuron sensori dan motor. Semua saraf sensori masuk ke sumsum tulang belakang melalui akar dorsal dan berasal dari reseptor. Sedangkan semua saraf motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui akar ventral dan menuju ke efektor.

2) Saraf Autonom
Sistem saraf autonom adalah bagian dari sistem saraf tepi yang mengontrol kegiatan organ – organ dalam, misalnya otot perut dan alat – alat reproduksi. Ada 2 macam saraf :
● Sistem saraf simpatetik
● Sistem saraf parasimpatetik
Stimulasi dari system saraf simpatetik berakibat merangsang kerja organ sebaliknya, stimulasi oleh saraf parasimpatetik bersifat menghambat kerja organ.
Efek yang berbeda ini disebabkan neurotransmitter yang dihasilkan juga berbeda. Neurotransmitter saraf simpatetik adalah noradrenalin, neurotransmitter saraf parasimpatetik adalah asetilkolin.

Efek antagonis antara sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik

Organ/jaringan Efek Stimulasi Sistem Saraf Simpatetik Efek Stimulasi Sistem Saraf Parasimpatetik
Iris (pupil mata) Melebarnya iris (pupil) MEnyempitkan iris (pupil)
Kelenjar air mata Tidak ada Menstimulasi keluarnya air mata
Kelenjar air liur Menghambat sekresi air liur Merangsang sekresi air liur
Otot antar rusuk Meningkatkan kecepatan bernapas Mengurangi kecepatan bernapas
Bronkus dan Bronkiolus Membesarkan bronkus dan bronkeolus Mengecilkan bronkus dan bronkeolus
Jantung Meningkatkan kecepatan denyut jantung Menghambat kecepatan denyut jantung
Pembuluh darah Meningkatkan tekanan darah Menurunkan tekanan darah
Sistem urin Menurunkan pengeluaran urin Meningkatkan pengeluaran urin
Usus -Menghambat gerak peristaltik
-Menghambat sekresi getah lambung
-Kontraksi sfingter dubur -Merangsang gerak peristaltik
-Merangsang sekresi getah lambung
-Merelaksasi sfingter dubur
Kulit -Kontraksi otot penegak rambut
-Merangsang produksi keringat
-Merangsang vasokontriksi, Yaitu mengecilnya diameter pembuluh darah, biasanya pada arteriola -Tidak berpengaruh
-Tidak berpengaruh
-Merangsang vasodilatasi, yaitu pembesaran diameter pembuluh darah, biasanya pada arteriola
Hati Mengubah glikogen menjadi glukosa Mengubah glukosa menjadi glikogen


B. ALAT INDERA
Alat indera ialah reseptor untuk mengetahui rangsangan – rangsangan dari luar atau disebut juga eksteroseptor.


1). Indera penglihat
Mata adalah organ indra yang kompleks. Di mata terdapat reseptor khusus cahaya yang di sebut fotoreseptor. Setiap mata mempunyai suatu lapisan reseptor, suatu sistem lensa untuk memutuskan cahaya pada reseptor dan sistem saraf untuk menghantarkan implus dari reseptor ke otak.
Pada bagian retina, tersusun kurang lebih 125 juta sel batang (sel basilus) dan kurang lebih 6,5 juta sel kerucut (sel konus). Sel batang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya yang di sebut rodopsin.












Sel kerucut mengandung pigmen iodopsin.Kerusakan sel kerucut menyebabkan buta warna (merah, biru, atau kuning), misalnya dikromat atau monokromat.

Bagian – bagian mata dan fungsinya

Bagian bola mata Fungsi
Konjung tiva Melindungi kornea dari gesekan
Sklera Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan memungkinkan melekatnya otot mata.
Otot - otot Otot-otot yang melekat pada mata :
a. otot rektus superior, menggerakan mata ke atas.
b. Otot rektus inferior, menggerekan mata ke bawah
c. Otot rektus redital, menggerakan mata ke dalam
d. Otot rektus lateral, menggerakan mata ke sisi luar
e. Otot oblikus inferior, menggerakan mata ke bawah sisi luar.
Kornea Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya.
koroid Mengandung pembulu darah penyuplai retina dan melindungi refleksi cahaya dalam mata.
Badan siliaris Menyokong lensa mengandung otot yang memeungkinkan lensa berubah bentuk, dan mensekresikan aqueous humor.
Iris (pupil) Mengendalikan ukuran pupil, sedangkan pigmennya mengurangi lewatnya cahaya.
Lensa Untuk memfokuskan cahaya.
Retina Mengandung sel batang dan kerucut.
Fovea (bintik kuning) Bagian retina yang mengandung sel kerucut.
Bintik buta Daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola mata dan tidak mengandung sel konus dan batang.
Vitreous humor Menyokong lensa dan menolong menjaga bentuk bola mata.
Aqueous humor Menjaga bentuk kantong depan bola mata.

Bila mata melihat benda yang dekat maka otot siliaris berkontaksi. Lensa menjadi menebal sehingga objek yang dekat dapat difokuskan pada retina. Saat melihat benda yang jauh, otot siliaris berelaksasi, lensa memipih dan objek di fokuskan pada retina.
Kecembungan lensa mata dapat berubah – ubah. Karena kontraksi dan relaksasi otot – otot ligament (badan siliaris) yang melekat pada bola mata. Kemampuan lensa mata dapat dapat berubah-ubah maka fokus penglihatan dapat diubah – ubah dinamakan daya akomodasi lensa mata. Mata yang normal adalah yang dapat memfokuskan sinar – sinar sejajar yang masuk ke mata sehingga jatuh tepat ke retina (bintik kuning) disebut emetrop.

Kelainan – kelainan pada mata

Jenis kelainan penyebab Lensa pembantu
Miopi (mata dekat) Bayangan benda jatuh ke depan retina karena bola mata terlalu panjang (cembung). Lensa cembung.
Hipermetropi ( mata jatuh) Bayangan benda jatuh di belakang retina karena bola terlalu pendek atau bola mata terlalu pipih. Lensa cembung.
Astigmatisma Kecembungan kornea tidak merata sehingga bayangan menjadi tidak fokus. Lensa silinder.























2). Indera Pendengar.
Mendengar adalah kemampuan untuk mendektesi suara. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan daun telinga yang berfungsi membantu mengkonsentrasikan gelombang suara. Rongga telinga tengah terisi oleh udara, sedangkan rongga telinga dalam terisi oleh cairan limfa.















Mekanisme terjadinya suara .
Gelombang suara yang masuk ke dalam teinga akan memukul gelombang telinga sehingga bervibrasi (bergetar) selanjutnya ditransmisikan melintasi telinga tengah melalui tiga tulang kecil (osikula) yang terdiri dari tulang martil (maleus), landasan(inkus), dan sanggurti (stapes). Telinga tengah dihubungkan ke nasofaring oleh tabung Eustachius.
Vibrasi mekanis dari osikula yang paling dalam (dari tulang sanggurti) ditransmisikan ke telinga dalam melalui membran yang fleksibel (jendela oval) ke koklea.Vibrasi dari jendela oval ditransmisikan ke dalam cairan limfa dalam ruangan koklea diteruskan dengan gerak berlawanan arah pada jendela bulat / jendela bundar.
Di bagian dalam (tengah) ruangan kloaka terlihat adanya organ kortil yang berisi sel – sel rambut yang sangat peka. Sel –sel rambut tersebut terletak di antara membrane basiler dan membrane tektorial. Cairan koklea menimbulkan vibrasi dalam membrane basiler. Hal ini menggerakan sel–sel rambut yerhadap membran tektorial, yang berarti menstimulasinya. Implus listrik yang timbul dalam sel ini kemudian diteruskan oleh saraf auditori ke otak. Demikian kita dapat mendengarkan suara.



Alat keseimbangan (Equilibrium)
Telinga juga berperan sebagai alat deteksi posisi tubuh yang berhubungan dengan dengan grafitasi dan gerak tubuh. Di atas koklea, ada dua kantong yang berisi cairan limfa sambung menyambung, yaitu 3 saluran setengah lingkaran (saluran semi sirkuler) dan vestibulum.
Jika kepala menggeleng, materi galatin ikut bergoyang, dan silia melengkung. Pelengkungan ini menimbulkan implus saraf yang kemudian disampaikan ke otak.
Jika kepala menggeleng, otolith ikut bergoyang dan silia melengkung. Pelengkungan ini menyebabkan terjadinya implus saraf di serabut saraf. Implus dari reseptor akan diinterprestasikan di otak dan hasilnya adalah informasi tentang posisi kepala.

3). Indera Peraba dan Perasa.
Kulit manusia tersusun oleh dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Pada epidermis terdapat reseptor untuk rasa sakit dan tekanan lemah. Reseptor untuk tekanan disebut mekanoreseptor.
Pada dermis terdapat reseptor untuk panas, dingin dan tekanan yang kuat. Masing–masing reseptor adalah sebagai berikut :
a. Korpuskula pacini, merupakan ujung saraf perasa tekanan kuat .
b. Ujung saraf sekeliling rambut, merupakan ujung saraf peraba.
c. Korpuskula ruffini, merupakan ujung saraf peraba.

d. Ujung saraf Krause, merupakan ujung saraf perasa dingin.
e. Korpuskula Meiisner, merupakan ujung saraf peraba.
f. Ujung saraf tanpa selaput, merupakan perasa nyeri.
g. Lempeng Markel, merupakan ujung saraf perasa sentuhan dan tekanan ringan.
















Masing – masing reseptor ini dihubungkan dengan neuron sensori. Reseptor indera yang didistribusikan ke seluruh otot rangka dan tendon dinamakan proprioseptor. Regangan / kontraksi otot memacu reseptor ini untuk mengenali implus saraf.

4). Indera Pembau.
Manusia menditeksi bau dengan menggunakan reseptor yang terletak pada ke dua epitel olfakori di dalam rongga hidung berukuran kurang lebih 250 milimeter persegi; udara yang masuk ke rongga hidung akan melaluinya. Sel-sel penciuman memiliki ujung berupa rambut-rambut halus yang dihubungkan dengan urat saraf melalui tulang saringan dan bersatu menjadi urat saraf olfaktori menuju ke pusat penciuman bau di otak. Di antara sel-sel penciuman terdapat sel-sel penunjang atau penyokong.
Kedua reseptor (bau dan kecap), saling berhubungan dan bekarja sama. Indera bau dan cium menerima stimulus berupa gas, sedangkan indera kecap berupa cairan.
Hanya ada dua reseptor yang dapat dibedakan dalam epitel olfactory, yaitu berdasarkan strukturnya. Namun, berdasarkan fungsinya, ada 7 macam keompok sel-sel reseptor. Dengan gabungan ke-7 reseptor itu, kita dapat mengenal 400 macam bau.


5. Indra Pengecap
Rangsangan kimia yang berasal dari luar tubuh kita terima oleh reseptor kimia (kemo reseptor). Kemoreseptor kita terdapat lingkungan luar adalah berupa tunas pengecap yang terdapat pada lidah. Agar suatu zat dapat dirasakan, zat itu harus larut dalam kelembapan mulut sehingga dapat menstimulasi kuncup rasa/tunas pengecap.
Terdapat pada permukaan lidah walaupun beberapa ditemukan pada langit-langit tunak tinggi di belakang mulut ,dan lengkung langit–langit. Kemoreseptor hanya dapat dibedakan menjadi 4 macam sensasi utama, yaitu rasa manis, asam, asin, dan pahit.
Dengan menggunakan larutan sukrosa, asam hidroklat, NaCl dan quinine sulfat encer, seseorang dapat mengetahui keempat rasa sensasi utama tersebut.











Daerah sensasi rasa manis terletak di bagian depan,asain di bagian tepi,asam dibagian kedua sisi lidah, dan pahit di bagian tengah lidah. Pada lidah 3 macam papil :

a. Papil bentuk benang; merupakan papil paraba dan tersebar di seluruh permukaan lidah.
b. Papil seperti huruf v; tersusun dalam lengkungan yang di lingkari oleh suatu saluran daerah dekat pangkal lidah dan merupakan papil pengecap.
c. Papil berbentuk palu; terdapat pada derah tepi-tepi lidah, juga merupakan papil pengecap.

D. HORMON
Hormon berasal dari kata homaein artinya mengingatkan atau memacu. Hormon dibentuk pada suatu kelenjar dalam tubuh. Hormon berperan dalam mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi terhadap stress serta tingkah laku.
Komponen sistem koordinasi adalah sistem saraf dan sistem endokrin.

1) Kelenjar – Kelenjar Endokrin
Sistem endokrin adalah sistem yang meliputi aktivitas beberapa kelenjar yang mengatur dan mengendalikan aktivitas seluruh tubuh.Kelenjar endokrin tidak mempunyai saluran khusus maka dari itu bermuara langsung ke dalam pembuluh darah disebut sebagai kelenjar buntu.
Kelenjar endokrin menghasilkan sekrit dalam atau sekri internal. Sekrit yang diproduksi masuk ke peredaran darah dan beredar bersama darah.
a. Macam Kelenjar Endokrin dan Letaknya
Dari aktivitasnya, kelenjar endokrin dapat dibedakan:
1. Kelenjar yang bekerja sepanjang hayat, misalnya hormon yang memegang peran pada proses metabolisme,
2. kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu, misalnya hormon kelamin,
3. Kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja, misalnya kelenjar timus yang terdapat di rongga dada.
Dari aspek macam dan lokasinya, kelenjar endokrin dibedakan menjadi :
1. kelenjar hipofisis, yang teletak pada dasar otak besar;
2. kelenjar tiroid, yang dikenal sebagai kelenjar gondok yang letaknya di daerah leher;
3. kelenjar paratiroid, juga disebut sebagai kelenjar anak gondok yang letaknya di dekat kelenjar gondok;
4. kelenjar pancreas, dikenal sebagai pulau-pulau Langerhans, yang letaknya di dekat ventrikulus (perut besar);
5. kelenjar adrenal atau suprarenalis yang terdapat dibagian atas ginjal; dan
6. kelenjar gonad atau kelenja kelamin, yang pada wanita terletak di daerah abdomen (perut), sedangkan pada pria letaknya di buah zakar dalam kantung buah zakar (skrotum).





















b. Fungsi Kelenjar Endokrin
1) kelenjar Hipofisis
Kelenjar hipofisis berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang panjang. Penyimpangan dari kelenjar ini yaitu adanya manusia raksasa. Hormon ini juga mempengaruhi aktivitas kelenjar hormone lain, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, kelenjar kelamin, dan juga mempengaruhi sekresi air susu, mempercepat pertumbuhan serta mengatur keseimbangan air.














b. Fungsi Kelenjar Endokrin
1) kelenjar Hipofisis
1. Kelenjar hipofisis berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang panjang. Penyimpangan dari kelenjar ini yaitu adanya manusia raksasa. Hormon ini juga mempengaruhi aktivitas kelenjar hormone lain, seperti kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, kelenjar kelamin, dan juga mempengaruhi sekresi air susu, mempercepat pertumbuhan serta mengatur keseimbangan air

Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis

No. Hormon Aktivitas
1.


2.


3.


4.


5. Hormon Adenotrop


Hormon Treotrop


Hormon Prolaktin (laktogen)

Hormon Paratireotrop

Hormon Gonadotrop Mempengaruhi kerja kelenjar anak ginjal.

Mempengaruhi kerja kelenjar anak gondok.

Mempengaruhi kerja kelenjar anak susu.

Mempengaruhi kerja kelenjar anak timus.

Mempengaruhi kerja kelenjar kelamin.


2) Kelenjar Tiroid dan Paratiroid
Kelenjar-kelenjar ini terletak di daerah leher deket dengan tulang rawan yang disebut buah adam. Keistimewaan kelenjar tiroid adalah kaya akan pembuluh darah.
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga macam hormon, yang dua macam serupa, yaitu tiroksin dan triiodotironin. Yang ketiga adalah kalsitonin.
Hormon tiroksin berfungsi mempengaruhi proses metabolisme, proses produksi panas, dan oksidasi sel-sel tubuh, kecuali di otak dan di limpa. Hormon ini juga berpengaruh terhadap proses pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, kematangan seks, dan distribusi air dan garam dalam tubuh. Dalam hati, hormon tiroksin dapat mengubah glikogen menjadi glukosa.
Hormon kalsitonin berperan menjaga keseimbangan kalsium dalam darah. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon yang disebut parathormon. Bila kadar kalsium dalam darah lebih rendah dari normal, maka kadar parathormon disekresikan. Peristiwa ini menyebabkan larutnya kalsium dalam tulang, kemudian masuk dalam darah dalam bentuk ion kalsium.
Hipofungsi atau hiposekresi kelenjar tiroid menyebabkan penyimpangan pada anak-anak yang disebut kretinisme, yaitu pertumbuhan terhambat, baik fisik ataupun mentalnya. Pda orang dewasa terjadi mix-oedem, yaitu suatu kegemukan yang luar biasa (obesitas), dan kecerdasan penderita menurun. Hipersekresi atau hiperfungsi kelenjar tiroid menyebabkan penderita bertambah aktivitas kerja atau kegiatannya tetapi badan tetap kurus disebut kelainan Basedow.
Hiperfungsi kelenjar tiroid mengakibatkan jumlah kalsium dalam darah bertambah, sehingga menyebabkan pengendapan kalsium di ginjal dikenal sebagai batu ginjal. Hipofungsi kelenjar tiroid yaitu kejang-kejang otot yang disebut tetani.

3) Kelenjar Adrenal dan Gonad
Kelenjar adrenal terdapat dibagian atas ginjal dan menghasilkan hormon golongan kortikoid. Hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal adalah, a) hormon kartikoid-mineral yang menyerap natrium dari darah dan sekaligus mengatur reabsorbsi air pada ginjal, b) hormon gluko-kortikoid yang menaikkan kadar glukosa darah, juga mengubah protein menjadi glikogen di hati dan mengubah glikogen menjadi glukosa, dan c) hormon androgen yang memunyai fungsi bersama-sama dengan hormon yang berasal dari gonad untuk menenukan sifat kelamin sekunder pria. Ketiga hormon tersebut dihasilkan oleh korteks kelenjar adrenalin. Dibagian medulla kelenjar adrenalin, dihasilkan hormon epinefrin (adrenalin).
Kelenjar kelamin atau gonad mempunyai sifat endokrinik karena menghasilkan hormon, sekaligus bersifat sitogenik karena menghasilkan sel kelamin. Pada wanita hormon yang dihasilkan adalah estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut berfungsi untuk penebalan dinding uterus dengan penyiapan penerimaan telur yang sudah masak dan siap untuk dibuahi & perbaikan dinding uterus karena proses menstruasi.
Hormon estrogen berperan dalam penampakan ciri-ciri wanita, seperti bertambahnya lemak di daerah dada, pantat, dan paha, serta sura yang terkesan lembut dan mempunyai nada tinggi. Pada pria hormon yang dihasilkan adalah testosteron yang diproduksi di testis. Berperan dalam menampakkan ciri pria, seperti berjanggut, dan pertumbuhan otot serta perkembangan tali suara sehingga suara menjadi keras dan kasar.
Kelamin pada kelenjar adrenal adalah virilisme, yaitu timbulnya ciri kelamin sekunder pria pada wanita. Juga penyimpangan Coushing syndrome, terjadi karena hiperfungsi kelenjar adrenal bagian korteks yang mengakibatkan membulatnya muka menyerupai bulan.
Hipofungsi kelenjar adrenal menyababkan terjadinya penyakit Adison, sehingga menyebabkan pigmentasi kulit berlebihan. Gangguan pada kelenjar gonad dalah gangguan pada menstruasi dan tumbuhnya tumor.

4) Kelenjar Pankreas
Hormon yang dihasilkan kelenjar ini adalah hormon insulin, yang memegang peran dalam menurunkan kadar gula darah. Hiposekresi hormon ini menyebabkan kencing manis (diabetes melitus) yang ditandai dengan menaiknya kadar gula darah.
Akibatnya sebagian gula akan dibuang melalui urin. Penderita mengalami kekurangan glukosa sehingga lemas, dan merasa selalu lapar. Komplikasi penyakit diabetes adalah gangguan pada jantung dan ginjal.

E. KELAINAN PADA SISTEM KOORDINASI.

1. Amnesia
Yaitu keditakmampuan seseorang untuk mengenali atau mengingat yang terjadi dalam suatu periode di masa lampau akibat goncangan batin atau cidera.

2. Stoke
Stoke dengan istilah lain cerebrovascular accident (CVA) atau celebral apoplexy adalah kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pacahnya pembuluh darah di otak, akibat penyempitan pembuluh darah (arteriosclerosis), penyumbatan oleh suatu emboli atau keduanya.

3. Cutter
Penderita cutter diduga ratusan sampai ribuan, selalu melukai dirinya sendiri pada saat depresi, strees atau bingung.

4. Neuritis
Radang saraf karena pengaruh fisis seperti tekanan pukulan, patah tulang, dapat pula karena racun atau definisi vitamin B ,B , B . Saraf terasa sakit dan terkadang kesemutan.

5. Transeksi
Kerusakan sebagian atau seluruh segmen tertentu dari medula spinalis, karena jatuh, tetembak yang sering disertai dengan hancurnya tulang belakang. Transeksi pada servik menimbulkan kuadriplegia (lumpuh tungkai atas dan bawah). Transeksi pembesaran lumpar menimbulkan paraplegia (lumpuh kedua tungkai bawah) juga disertai dengan kehilangan segala rasa (mati rasa)

6. Parkinson
Penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya neurotransmitter dopamine pada dasar ganglion dengan gejala tangan gemetar sewaktu istirahat, sulit bergerak, kekekuan otot, otot muka kaku menimbulkan kesan seolah–olah bertopeng , mata sulit mengedip dan langkah kaki menjadi kecil dan kaku.

7. Epilepsi
Penyakit yang terjadi karena dilepaskan letusan– etusan listrik (implus) pada neuron–neuron diota. penyebabnya : terdapatnya jaringan–jaringan parut di otak dari bekas luka sewaktu kelahiran atau karena infeksi, tumor, gangguan metabolisme dan ada yand tidak diketahui penyebabnya.

8. Poliomielitis
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang neuron–neuronmotor system saraf pusat (otak dan medulla spinalis). Gejalanya : panas, sakit kepala, kaku duduk, sakit otot kemudian kelumpuhan.

9. Neurasthonia, lemah saraf
Penderita ini biasanya pemarah, kecil hati, kurang tenaga. Ada yang karena bawaan lahir, ronami terlalu lelah, terlalu berat penderitaannya, atau karena sakit keracunan.

F. OBAT PSIKOTROPIKA BERAHAYA

Di dunia kedokteran dikenal adanya obat-obat tertentu yang dapat menghilangkan penyakit atau rasa sakit di tubuh. Dapat mempengaruhi system saraf menimbulkan perasaan nikmat, melayang, aktifitas luar biasa, rasa mengantuk atau tidur.
Obat-obatan semacam itu sering disebut zat-zat psikoaktif yang bermanfaat untuk ilmu kedokteran jiwa untuk mengobati penyakit mental dan saraf.
Penyalahgunaan psikoaktif dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan tubuh serta dapat menimbulkan kematian.
Zat psikoaktif masuk ke dalam tubuh melalui :
a. mulut (merokok)
b. hidung (mengisap zat dalam bentuk uap atau bubuk, misalnya kokain)
c. kulit (menyuntikkan ke dalam otot atau vena).

1. Stimulan
Stimulan bersifat menstimulasi sistem saraf simpatetik melalui pusat di hipotalamus sehingga meningkatkan kerja (kegiatan), meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, pengecilan pupil dan peningkatan gula darah. Memberikan rangsangan pemakainya untuk menggunakan tenaganya lebih cepat, oleh karenanya stimulan ini disebut juga "pil penggiat".
Stimulan dapat berupa kafein, nikotin, phenmetrazin, methyl, phenidat, atau amfetaritalin, (deksedrin, metal amfetamin, preludin, Ritalin, serta kokain).
Dalam dunia pengobatan , amphetamine dipergunakan untuk menghilangkan rasa lelah, depresi, memelihara kestabilan darah selama pembedahan dan mencegah rasa syok karena pembedahan.

2. Depresan
Depresan befungsi untuk mengurangi kegiatan sistem saraf sehingga menurunkan aktifitas pemakainya. Pada umumnya membuat susunan saraf pusat menjadi pasif. Obat ini terkenal dengan sebutan obat penenang atau obat tidur.
Secara medis berguna untuk membantu mengurangi rasa cemas dan gelisah, meredahkan ketegangan jiwa, darah tinngi dan depresi.
Ada 5 kategori utama depresan, yaitu :
a. etanol (etil alkohol)
b. barbiturat; mencakup obat flu seprti seconal, membutal, dan amytal.
c. Obat penenang; yang paling banyak digunakan adalah diazepam (valium).
d. Opiate; mencakup opium, morfin, kodein, dan metadon.
e. Anastetik; mencakup kolorofom, eter, dan sejumlah hidrokarbon yang mudah menguap dan bisa digunakan sebagai plarut : benzene, toluene, dan karbon tetraklorida.

3. Halusinogen
Dalam dosis sedang, halusinogen memunyai pengaruh kuat terhadap persepsi penglihatan dan pendengaran subjek dan juga peningkatan respon emosional. Dosis lebih tinggi, dapat terjadi halusinasi yang sebenarnya, yakni si subjek "melihat" atau "mendengar".
Meliputi LSD, STP (mirip amfetamin), DMT, mesakolin, psilosibin dan PCP suatu obat bius hewan.
Efek dari obat ini adalah :
a. adanya perasaan yang melayang
b. hilangnya perhatian kepada lingkungan sekitar,
c. berat badan tidak terasa.

4. Eeforia
Adalah obat yang memberikan rasa gembira dan gairah. Yang termasuk obat utama dalam kelompok ini adalah ganja dan mariyuana. Ganja adalah mariyuana yang lebih kental. Kedua obat tersebut mengakibatkan rasa "melayang".

G. GEJALA PENYALAHGUNAAN MINUMAN BERALKOHOL.

Alkohol dapat menekan aktifitas susunan saraf pusat. Jumlah sedikit akan memepengaruhi puasat pengendalian diri di otak dan berkhasiat seolah-olah sebagai perasangsang (stimulus) susunan saraf.
Karena penekanan pusat pengendalian diri, rasa malu akan berkurang, peminum akan lebih berani berbicara dan lebih leluasa berkomunikasi dengan orang lain, serta tidak akan merasa cemas.
Jumlah banyak mengakibatkan peminum kehilangan keseimbangan, berbicara menjadi tidak jelas, daya ingat terganggu untuk sementara waktu. Jumlah lebih banyak lagi dapat menimbulkan koma bahkan kematian.

Tingkat kercunan kasus alkohol dibagi 5 macam:
1. Tingkat subklinik:
Bila kadar alkohol dalam darah 0 – 100 mg/100 ml darah atau dalam urin 0 – 150 mg/100 ml urin:
● peminum masi terlihat normal
● terdapat sedikit perubahan kepekaan psikologi.

2. Tingkat stimulasi:
Kadar alkohol dalam darah 40 – 220 mg/100 ml darah atau dalam urin 130 – 290 mg/100 ml urin:
● emosi tidak stabil,
● daya tahan menurun,
● tidak ada koordinasi otot,
● respon terhadap orang lain sangat lambat.

3. Tingkat Kebingungan
Bila kadar alcohol dalam darah 180 – 310 mg/100 ml darah atau dalam urin 260 – 450 mg/100 ml urin:
● gangguan sensasional (alam perasaan)
● tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan,
● hilang keseimbangan, bicara tidak terkontrol

4. Pingsan
Kadar alcohol dalam darah 270 – 440 mg/100 ml darah atau dalam urin 360 – 580 mg/100 ml urin:
● respon terhadap rangsang menurun
● tadak ada koordinasi pada otot
● terjadi kelumpuhan (paralysis).



5. Keadaan Koma
Kadar alcohol dalam darah 300 – 550 mg/100 ml darah atau dalam urin 480 – 700 mg/100 ml urin:
● dalam keadaan ketidaksadaran sempurna
● gerak refleks melemah, bahkan tidak ada refleks sama sekali
● bila melampaui keadaan ini tidak dapat tertolong.




Akibat Minuman yang Mengandung Alkohol

a. Gangguan fisik
Minuman keras dalam jumlah banyak dan waktu yang lama:
- Kerusakan hati, jantung, pancreas, lambung dan otot.
- Bayi yang dilahirkan dari ibu peminum mengalami berat badan kurang, keterbelakangan mental, janin tubuh tidak tidak sempurna.

b. Gangguan Jiwa
Peminum kronis dalam jumlah yang banyak:
- Kerusakan jaringan otak
- Gangguan daya ingat
- Gangguan jiwa tertentu
- Mudah tersinggung
- Pengendalian diri kurang, pemberani, agresif.
- Dapat menimbulkan gangguan keterlibatan umum.

Tidak ada komentar: